Teror Bukanlah Cara Islam

 

Oleh Husnul Amin
Peshawar, Pakistan – Seorang pengemudi Afghanistan dan tiga wanita pekerja pembebasan yang dipekerjakan oleh Komite Penyelamatan Internasional (IRC) tertembak dan terbunuh di Provinsi Logar Afghanistan bulan lalu. IRC yang berkantor pusat di New York telah membantu Afghanistan sejak 1980-an. Seorang juru bicara Taliban yang menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan itu mengatakan, "Kami tidak menghargai proyek-proyek bantuan mereka, dan kami pikir mereka tak bekerja untuk kemajuan negara kami."

Di seberang perbatasan di Pakistan, Taliban Pakistan secara rutin menganiaya dan membuang para pekerja pembebasan dan LSM. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka juga telah membom ratusan sekolah, hotel, jembatan, dan toko-toko video di area-area berbeda di barat laut Pakistan. Menurut laporan media, lebih dari 61 sekolah wanita di Swat Valley saja telah dibakar.

Apakah para pekerja bantuan, pelajar, dan wanita merupakan target baru Taliban dalam apa yang disebut "perang melawan teror"? Apa yang bisa dikatakan teori dan praktik Islami dari tindakan seperti itu? Dan siapa yang berwenang mengeluarkan maklumat tentang masalah tersebut—cendekiawan yang terdidik secara tradisional atau ekstremis?

Sejauh berkenaan dengan etika perang dalam masa awal Islam, beberapa hadits melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak, seperti jelas dinyatakan dalam hadits yang dikisahkan oleh Khalifah Umar (Bukhari, 4:258). Abu Bakar, khalifah pertama dan sahabat Nabi Muhammad, meringkas pesan Nabi, mengatakan kepada para tentaranya, "Jangan membunuh wanita, anak-anak, atau orang tua. Jangan menebang pohon yang berbunga, jangan menghancurkan bangunan, dan jangan membunuh domba atau unta, kecuali untuk tujuan memakannya. Jangan menenggelamkan atau memotong pohon palem. Jangan berlebihan, dan jangan jadi pengecut."

Hampir ada konsensus universal di antara Muslim bahwa pembunuhan orang sipil tidak bisa diterima, bahkan dalam konflik. Namun, Taliban dan Al Qaeda tampaknya mendefinisikan kembali anggapan ini untuk disesuaikan dengan ambisi mereka.

Ayman al-Zawahiri, orang nomor dua Al Qaeda, mengumumkan tindakan semacam itu, termasuk pengeboman bunuh diri, seperti yang dibenarkan dalam masa perang. Namun dalam tradisi Islam mengeluarkan pendapat hukum religius atau fatwa semacam itu adalah hak prerogatif para cendekiawan yang khusus mempelajari tradisi hukum Islam, bukan para militan yang terlatih secara informal untuk membunuh atas nama Islam.

Menyatakan bahwa membunuh orang-orang tak berdosa, membakar sekolah, menyakiti para pekerja bantuan dan menentang proyek-proyek pembangunan bisa dibenarkan dalam Islam dikritik dengan tajam oleh para cendekiawan Islam tradisional, kadang dengan mengorbankan nyawa mereka. Maulana Hasan Jan, cendekiawan Islam yang dihormati dari Pakistan dan imam Masjid Darwish, masjid pusat di barat laut kota Peshawar Pakistan, mengkritik tindakan semacam itu dalam khotbah Jumatnya. Ia menyatakan bahwa main hakim sendiri merupakan pelanggaran terang-terangan dari ajaran Islam. Segera sesudahnya, dia mulai menerima ancaman mati, dan akhirnya ditembak oleh militan Taliban pada September 2007.

Maulana Hasan Jan tidak sendiri dalam mengeluarkan keputusan semacam itu. Pusat Cendekiawan Islam, yang memiliki hak untuk mengeluarkan keputusan hukum Islam di Karachi, Lahore, Multan, Gujranwala dan Peshawar, mengumumkan serangan terhadap korban tak berdosa asing dalam Islam. Bahkan Maulana Sufi Mohammad, pemimpin garis keras Gerakan Implementasi Syariah yang ditangkap atas tuduhan menghasut pemuda di wilayah kesukuan untuk berperang, menyatakan pengeboman bunuh diri dan pembunuhan massal sebagai tindakan tidak Islami.

Taliban dan Al Qaeda tidak mampu menghimpun dukungan dari mayoritas cendekiawan Islam tradisional dan ahli hukum yang menganggap taktik ekstrim mereka sebagai penyimpangan dari Islam yang benar dan hasil dari salah menginterpretasi teks-teks religius.

Karenanya cendekiawan Muslim dan ahli hukum memiliki pengaruh untuk membalik pertumbuhan tren menyerang pekerja bantuan dan organisasi pengembangan. Mereka memiliki potensi besar dalam bidang resolusi konflik dan pencegahan. Malah, potensi ini disadari seiring dengan banyaknya universitas di negara-negara Muslim yang memulai disiplin baru mengkaji pembangunan perdamaian dan resolusi konflik dalam Islam. Khususnya di Pakistan, Universitas Karachi dan National Defense College di Islamabad mulai menawarkan kursus kajian perdamaian dan konflik.

Demikian juga, banyak cendekiawan Islam di seluruh dunia secara aktif terlibat sebagai guru, periset dan aktivis yang menegaskan dan menjelaskan pendekatan damai Islam kepada masyarakat sipil. Para cendekiawan ini dapat dan harus terus berbicara, menegaskan sikap pro-pembangunan Islam, menurunkan kemampuan militan kejam dalam menggunakan Islam untuk membenarkan tindakan mereka dan membuat Islam bagian dari solusi.

*Husnul Amin adalah kolumnis koran Urdu, Mashriq, dan kandidat Doktor dalam kajian pembangunan di Institute of Social Studies di The Hague, Belanda.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 9 September 2008, www.commongroundnews.org. Telah memperoleh hak cipta.