Terorisme Pasca Eksekusi Amrozi CS

 

Oleh R u m a d i
“Most Muslims are not fundamentalists, and most fundamentalists are not terrorist, but most present-day terrorist are Muslims and proudly identify themselves as such” (Bernard Lewis, The Crisis of Islam, Holy War and Unholy Terror, 2003)

Setelah sempat tertunda-tunda dan diliputi ketidakpastian, drama eksekusi pelaku bom Bali I, Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas berakhir. Petualangan Amrozi cs yang terus mengobarkan jihad dengan menebarkan teror berakhir di depan regu tembak. Pelatuk regu tembak telah mengakhiri teka-teki eksekusi Amrozi. Tim Pembela Muslim (TPM) sebagai kuasa  hukum Amrozi cs berusaha sekuat tenaga untuk menunda, bahkan membatalkan, eksekusi dengan berbagai dalih. Kelompok-kelompok yang simpati dan mendukung tindakan Amrozi cs juga menekan pemerintah agar tidak mengeksekusi mereka. Namun, kini semua sudah berakhir.

Keberanian pemerintah, dalam hal ini Kejaksaan Agung, melakukan eksekusi terhadap Amrozi cs patut dihargai. Meski mendapat tekanan dari berbagai kelompok yang bersimpati kepada Amrozi cs, namun akhirnya eksekusi itu terlaksana.

Jasad Amrozi cs memang sudah terkubur. Namun, ideologi perjuangan yang mereka lakukan belum tentu ikut terkubur. Karena itu, kita bisa mengajukan pertanyaan, apa makna eksekusi Amrozi cs dalam konteks perang melawan terorisme? Apakah dengan eksekusi ini akan melemahkan gerakan kelompok teroris? Hal ini penting untuk direfleksikan lebih jauh terutama ketika bangsa Indonesia dalam suasana memperingati hari pahlawan.

Bukan tidak mungkin, banyak kalangan yang menganggap Amrozi sebagai mujahid dan pahlawan yang harus dihormati. Jika asumsi ini dibiarkan, akan berkembang pemahaman, tidak masalah dikatakan sebagai teroris dan dihukum mati, tapi di sisi Allah mereka adalah mujahid. Asumsi ini bisa terus berkembang dan bisa sampai pada anggapan, pemerintah Indonesia adalah pemerintah lalim karena membunuh para mujahid.

Cara pandang demikian tidak boleh dibiarkan. Masyarakat harus diberi pemahaman, untuk menjadi mujahid tidak perlu menjadi teroris. Menjadi mujahid di Indonesia tidak perlu dengan meledakkan bom yang justru bertentangan dengan semangat jihad itu sendiri. Namun, merubah cara pandang demikian bukan hal mudah.

Membunuh Ideologi Terorisme
Eksekusi Amrozi cs dapat dilihat sebagai bagian dari semangat perang melawan terorisme. Inti dari perang melawan terorisme bukanlah memerangi dan menghukum pelaku teror. Bukan berarti tidak penting, tapi ibarat mengobati penyakit, hal demikian seperti memberi obat generik yang hanya bisa menyembuhkan sesaat. Karena akar dari penyakitnya belum disembuhkan maka ketika pengaruh obat itu hilang, penyakitnya akan muncul kembali.

Nah, akar penyakit terorisme adalah persoalan mindset dan ideologi berpikir. Oleh karena itu, di samping aspek penegakan hukum, perang melawan terorisme harus juga dilakukan dengan membunuh ideologi terorisme. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan ideologi terorisme? Sampai di sini perlu ada penjelasan hati-hati karena akan mudah menimbulkan kesalahpahaman.

Ideologi dasar dari terorisme adalah kekerasan.  Dalam pandangan John Hamling dalam “The Mind of the Suicide Bomber”, kekerasan yang terkait dengan terorisme bisa didorong oleh beberapa faktor. 1) Cinta. Demi cinta orang bisa mengorbankan hidupnya; 2) Heroisme (kepahlawanan). Hal ini bisa terjadi dalam kasus peperangan dimana orang rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan yang lain; 3) Keputusasaan atau kehilangan harapan; 4) Kegilaan. Ada yang berpendapat bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (gila) yang merupakan bagian dari ritus supernatural karena kematian tidak bisa dielakkan dan bersifat sementara; 5) Eskapisme. Kematian kadang dilihat sebagai upaya “berlari menghindar” dari kenyataan; 6) Kebanggaan. Seseorang bisa melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti; 7) Ketenangan dan ketentraman. Pengorbanan diri adalah tindakan syahid dan religius untuk mendapatkan kebahagiaan; 8) Fanatisme. Sistem kepercayaan yang kaku, sempit, dan keras bisa menuntut penganutnya melakukan bunuh diri untuk sebuah “perjuangan” (Kompas, 11 September 2004).

Dalam konteks Islam, ideologi kekerasan tersebut kemudian bertemu dengan konsep jihad. Apakah dengan begitu, konsep jihad dalam Islam juga harus “dibunuh”? Menurut saya tidak. Jihad merupakan ideologi yang memberi energi spiritual kepada umat Islam untuk terus berjuang mengarungi kehidupan. Hal yang harus “dilucuti” dari jihad adalah unsur kekerasannya. Bahkan, jihad bisa dijadikan instrumen melawan kekerasan.

Unsur kekerasan dalam jihad harus ditransformasikan dalam bingkai kenegaraan. Artinya, instrumen kekerasan dalam jihad tidak boleh dilakukan secara partikelir, tapi hanya dimiliki institusi negara. Konsep jihad tidak bisa semata-mata dipahami sebagai tugas individu sebagai muslim, tapi harus juga diletakkan dalam konteks bernegara. Dengan demikian, jihad bagi pribadi-pribadi muslim bisa dijadikan instrumen untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak.

Dengan kerangka demikian, maka ideologi mujahid harus ditransformasikan menjadi ideologi perjuangan kemanusiaan, bukan perjuangan kekerasan. Pelaku kekerasan tidak bisa disebut sebagai mujahid, tapi teroris yang justru bisa merusak Islam. Oleh karena itu, orang seperti Riyanto, anggota Banser NU Mojokerto, yang terbunuh karena ledakan bom ketika dia menjalankan tugas menjaga gereja pada Hari Natal tahun 2000, lebih layak disebut sebagai mujahid. Akan aneh jika yang disebut mujahid adalah orang yang meledakan bom di gereja. Sayangnya, sosok seperti Riyanto tidak pernah dielu-elukan sebagai mujahid.

Memisahkan Islam dan Terorisme
Mungkinkah orang bisa disebut teroris tapi pada saat yang sama disebut mujahid. Teroris adalah dunia hitam, gelap dan neraka, sedang mujahid adalah dunia putih, terang benderang dan surga. Ini adalah either or, tidak mungkin teroris sekaligus mujahid. Oleh karena itu, Islam dan terorisme harus dipisahkan. Hal ini memang bukan pekerjaan ringan, karena meskipun berbagai kalangan berupaya menjelaskan bahwa Islam tidak ada hubungan terorisme, namun pihak-pihak lain terus berupaya untuk mengkaitkan. Tim pembela hukumnya saja perlu memberi kata “muslim”. Hal ini secara tidak disadari sebenarnya justru menggiring pada pemahaman kaum muslim itu teroris.

Karena itu, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang seperti Bernard Lewis yang pernyataannya saya kutip diawal tulisan ini. Memang kebanyakan orang muslim bukan fundamentalis, dan kebanyakan fundamentalis bukan teroris. Tapi, realitas sekarang, kebanyakan teroris adalah muslim.

Bernard Lewis memang tidak sepenuhnya benar. Terorisme dan kekerasan adalah fenomena semua agama. Bahkan, dalam kajian lima jilidnya yang besar, Martin E Marty dan R Scott Appleby (1995) mengkaji soal fundamentalisme tidak hanya membahas Islam, tapi juga Protestanisme, Katolikisme, Hinduisme, Sikh, Theravada Budhisme, Konfusionisme, bahkan Zionisme. Martin E Marty menganggap semua agama terlibat dalam konflik militansi dan peperangan abadi.

Akhirnya, harus dikatakan eksekusi Amrozi cs bukanlah akhir dari perang melawan terorisme. Ideologi terorisme belum mati bersama matinya Amrozi cs.[]

*Penulis Dosen Fak. Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Deputi Riset the Wahid Institute Jakarta.