Menggagas Gus Dur - Kategori : Budaya

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Inspirasi dari Pemikiran Gus Dur

Walhasil, visi Gus Dur tentang Indonesia masa depan adalah negara-bangsa Indonesia yang demokratis, pluralis, toleran, dan humanis, yakni negara yang menjamin kedudukan yang sama bagi seluruh warga negara dari berbagai latar belakang agama, etnis, gender, aliran, bahasa, dan status sosial.

Gus Dur, Sang Saudagar Humor

Oleh Sudaryanto BANYAK orang mengenal sekaligus mengenang (alm) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur-tanggal 30 Desember 2011 genap 2 tahun meninggal-sebagai tokoh pluralisme. Namun, hanya sedikit orang yang mengenal sekaligus mengenangnya, sebagai saudagar humor NU (Nahdlatul Ulama). Padahal, bicara tentang humor NU, jelas kita tak bisa melupakan the Godfather-nya, yaitu Gus Dur sendiri. Sejauh mana humor NU ala Gus Dur dikatakan menarik?

Mengelola Generasi Nahdlatul Ulama

Bila NU berhasil mengelola munculnya generasi baru yang terdidik ini, maka kebesaran NU tidak hanya dilihat dari jumlah anggotanya yang banyak, tapi juga kemampuannya untuk mempelopori perubahan. Kepeloporan inilah yang belakangan mulai redup di dalam NU.

Mencangkok Kecerdasan Gus Dur

Oleh: Ilung S. Enha ADA satu hal yang belum sanggup kita urai tentang Gus Dur; dari manakah kecerdasan Gus Dur berasal? Teori genetika, tentulah bukan jawaban yang melegakan - bila itu kita berikan sebagai jawaban. Sebab model kecerdasan Gus Dur, kayaknya tak dimiliki oleh saudaranya yang lain. Bahkan tak sedikit orang tua jenius, justru memiliki anak-anak idiot atau setidaknya bodoh dan bebal. 

Ngobrol Bareng Gus Dur di Alam Kubur

Oleh Ali Mahmudi CH Pasca Gus Dur wafat, berbagai pemikirannya tak pernah surut diperbincangkan. Bahkan momen kedukaan itu menjadikan  daya magnetik terbesar guna mengenang gagasan pemikirannya. Dalam rangka mengenang beliau, tak hanya Yasinan dan Tahlilan saja yang dikumandangkan. Tetapi, banyak mereka yang mengkaji pemikiran-pemikirannya. Ini tak lazim dilakukan pasca kemangkatan orang biasa. Memperbincangkan Gus Dur seolah memang tak ada matinya. 

Ketika Komitmen Multikultural Kian Rapuh

Oleh: M. Subhi Azhari Keberadaan Indonesia sebagian model toleransi beragama dan multikulturalisme akhir-akhir ini diguncang banyaknya insiden kekerasan atas nama agama. Secara kuantitas, insiden kekerasan tersebut setiap tahun terus meningkat. Begitupula secara kualitas, tindakan kekerasan berbasis agama ini telah sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai pihak telah menyuarakan keprihatinannya menyikapi situasi tersebut, bahkan tidak sedikit dari mereka secara tegas mengutuk kekerasan dan menganggapnya sebagai tindakan yang merongrong nilai-nilai kemanusiaan.

Oligarki Penafsiran Agama

MUSYAWARAH Nasional Ke-7 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta (26-29 Juli 2005) telah mengeluarkan fatwa yang dipandang oleh sejumlah tokoh agama sebagai kurang bijak dan hegemonik.

Nalar Negara Agama dalam Penyelesaian Ahmadiyah

saya tidak yakin langkah mengagamakan Ahmadiyah akan menyelesaikan persoalan Ahmadiyah. Memang, untuk sementara kelompok-kelompok radikal anti-Ahmadiyah akan menyambut gembira keputusan ini. Meskipun Ahmadiyah tidak dibubarkan, namun mereka akan merasa cukup puas jika Ahmadiyah bisa dipaksa untuk murtad.Pertanyaannya, apa yang akan terjadi setelah itu? Boleh saja Negara secara adminsitratif memaksa orang-orang Ahmadiyah keluar dari Islam, tapi Negara pasti tidak bisa menghilangkan keyakinan mereka terhadap Islam (versi Ahmadiyah). Mereka tidak mungkin bisa meninggalkan shalat, mengucapkan assalamu\'alaikum, membaca syahadat, membaca al-Quran, membangun masjid sebagai tempat ibadah, berpuasa, pergi haji dan sebagainya.

Kula Ndherek, Gus

Adalah Edy Yurnaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan Majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan laporannya. Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman Wahid di Kantor PBNU. Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia.

Imlek, Valentine, dan Gus Dur

Selamat hari raya Imlek bagi yang merayakan. Begitu istimewa perayaan Imlek kali ini, yang tepat pada 14 Februari 2010, bersamaan dengan Hari Kasih Sayang, Valentine\'s Day. Berkat kasih sayang dan perjuangan (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasih menjabat presiden ke-4 Republik Indonesia, warga etnik Tionghoa di Indonesia bisa merayakan Imlek dengan terbuka tanpa ancaman.