Menggagas Gus Dur - Kategori : Budaya

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Warisan Gus Dur

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur

Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Sebagai titah  atau makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.

Berpulangnya sang Penakluk

Salah satu kenangan kita kepada Gus Dur saat menjadi Presiden adalah diresmikannya Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Kita akrab dengan selorohnya \"gitu aja kok repot\", sebuah kesan begitu ringan saat merespon masalah yang dihadapinya. Tanpa beban berat Gus Dur memberhentikan Wiranto dari jabatan Menkopolkam saat itu. Begitu juga tanpa canggung-canggung Gus Dur memberi predikat \"anak taman kanak-kanak\" bagi anggota DPR hasil Pemilu 1999. Itu semua yang kemudian berujung pada dilengserkannya Gus Dur dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, hanya 2 tahun dari pelantikannya.

Si Jenius yang Humoris dan Fenomenal

SOSOK KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab di pangil Gus Dur adalah fenomenal. Gus Dur telah menghadap Sang Khalik pada hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB lalu, di RSCM Jakarta.

Gus Dur dan Siklus 100 Tahunan

Ketokohan Gus Dur yang ditopang oleh kharisma, kecerdasan intelektual, dan geneologi kekiaian memang luar biasa. Bahkan, sebagian warga NU meyakini tokoh sekaliber Gus Dur hanya lahir sekali dalam 100 tahun. Jadi, kalau ingin ada Gus Dur lagi, kita harus menunggu 100 tahun lagi. Itu dianalogikan dengan kelahiran para mujaddid a\'dham (pembaru besar) yang lahir dalam 100 tahun sekali.

Harus Belajar dari Gus Dur

Baginya jika ada ide yang bisa diusung bersama, maka ide itulah yang menyatukan mereka sehingga Gus Dur tidak membedakan dan melupakan \"dosa\" yang pernah dilakukan Akbar dan Megawati tersebut. Walaupun Gus Dur sering mengkritik SBY dengan keras, bukan berarti secara personal Gus Dur pernah membenci SBY. Hal ini dicontohkan Gus Dur yang menjadi mantan presiden yang sering menghadiri upacara 17 Agustus di Istana Merdeka.

Pembela Sejati Kaum Buruh (Migran)

TAK terasa sudah 100 hari Gus Dur meninggalkan kita. Namun, ingatan akan peran Gus Dur dalam upaya menegakkan martabat dan kedaulatan rakyat tidak pernah sirna. Memang patut disayangkan, saat Muktamar Ke-32 NU berlangsung di Makassar, tak ada even khusus untuk merefleksikan peran Gus Dur.

Menggagas Mazhab ‘Gusduriyah’

Pada akhir tahun 2009, tepatnya tanggal 30 Desember pukul 18.45 WIB, seorang tokoh besar, guru bangsa, dan Presiden RI ke-4 bernama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah pulang ila rahmatillah. Setelah ia wafat, bangsa Indonesia benar-benar kehilangan, semua media meliput berbagai jasa dan kelebihannya dalam ikut memberi kontribusi dalam membangun umat manusia baik dalam lingkup nasional mapun internasional.

NU, Gus Dur, Moderatisme, dan Soft Power

`Political leaders have long understood the power that comes from attractions.... Soft power is a staple of daily democratic politics.\' (Josep S Nye, Jr, Soft Power, 2004:6) ISLAM moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama Gus Dur sebagai ikon Islam moderat Indonesia. Warga nahdiyin perlu bangga dengan hal ini.

Menggapai Berkah Gus Dur

Para peziarah akhir pekan lalu berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya sang kiai yang juga dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.