Menggagas Gus Dur - Kategori : Islam

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Kitab Kuning Pasca Gus Dur

Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren, khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur pesantren yang bernama kitab Kuning ini.

Terorisme, Islam, dan Gus dur

Oleh Cecep Hidayat Dalam pandangan Gus Dur, islam lebih tepat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi terciptanya sistem yang berkeadilan dalam sistem kenegaraan di Indonesia. Bagi Gus Dur permasalahan ideology Negara sudah selesai sejak didirikannya Negara ini. 

Membaca Ulang Fikih Minoritas

Berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa kelompok minoritas,mulai dari peristiwa yang menimpa kelompok Ahmadiyah,persoalan konflik tempat ibadah,hingga penyerangan terhadap sebuah pesantren yang disinyalir berhalauan Syiah,sangat memprihatinkan.

Boros Takbir

Dalam fiqih, orang yang was-was seperti itu dekat dengan setan, sehingga harus dijauihi. \"Jangan-jangan orang yang suka takbir di jalan-jalan itu adalah orang yang was-was dan dekat dengan setan\", sindir Gus Yusuf yang disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir malam itu.

Menelisik Akar-Akar Ritus Kekerasan Agama

Kekerasan akhir-akhir ini kerap disandingkan dengan agama. Selain alasan penyerangan berkisar soal agama, pelakunya juga memakai simbol agama. Kekerasan etnis-agama-migrasi yang dominan pada masa transisi -seperti dilansir United Nations Support Facility for Indonesian Recovery (UNSFIR) pada 2002-kini hanya didominasi agama saja. Kekerasan agama juga menjadi pusat perhatian setelah beberapa lembaga melansir laporan situasi kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Di laporan ini terungkap kekerasan dilakukan sebagai salah satu respons terhadap perbedaan penafsiran dan sikap keagamaan sebuah kelompok.

Gus Dur dan Pembelaan Terhadap Ahmadiyah

AKSI BUNGKAM dan pembiaran pemerintah pusat terhadap pembantaian Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten,  rupanya mulai ditiru pemerintah lokal. Bukannya mengutuk dan mengusut tindak kekerasan tersebut, pemerintah daerah justru menimpakan hujatan kepada Jemaah Ahmadiyah sebagai penyebab tindak pembantai itu.

Ahmadiyah, Demokrasi, Anarkhisme Mayoritas

Seribuan warga Parung, Bogor, yang menyerbu kampus Mubarak milik Jemaah Ahmadiyah Indonesia dan mengusir pemiliknya 15 Juli 2005 adalah bukti tentang bahaya tirani dan anarkhisme mayoritas. Kekhawatiran paling besar terhadap demokrasi sejak mula pertama penyebarannya adalah persoalan kekuasaan mayoritas yang bisa menjadi tiran dan anarkhis.

Oligarki Penafsiran Agama

MUSYAWARAH Nasional Ke-7 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta (26-29 Juli 2005) telah mengeluarkan fatwa yang dipandang oleh sejumlah tokoh agama sebagai kurang bijak dan hegemonik.

Nalar Negara Agama dalam Penyelesaian Ahmadiyah

saya tidak yakin langkah mengagamakan Ahmadiyah akan menyelesaikan persoalan Ahmadiyah. Memang, untuk sementara kelompok-kelompok radikal anti-Ahmadiyah akan menyambut gembira keputusan ini. Meskipun Ahmadiyah tidak dibubarkan, namun mereka akan merasa cukup puas jika Ahmadiyah bisa dipaksa untuk murtad.Pertanyaannya, apa yang akan terjadi setelah itu? Boleh saja Negara secara adminsitratif memaksa orang-orang Ahmadiyah keluar dari Islam, tapi Negara pasti tidak bisa menghilangkan keyakinan mereka terhadap Islam (versi Ahmadiyah). Mereka tidak mungkin bisa meninggalkan shalat, mengucapkan assalamu\'alaikum, membaca syahadat, membaca al-Quran, membangun masjid sebagai tempat ibadah, berpuasa, pergi haji dan sebagainya.

Robohnya Kerukunan Beragama

Penganiayaan terhadap pengurus Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Asia Lumban Toruan, tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga luka pada bangunan kerukunan beragama di Indonesia.