Menggagas Gus Dur - Kategori : Isu Aktual

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi

Kita kehilangan seorang Bapak Demokrasi, Perdamaian,Toleransi, dan Pluralisme , Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.

Gus Dur dan Kelautan

Wafatnya Gus Dur membuat semua pihak merasa sangat kehilangan, termasuk masyarakat kelautan. Hingga saat ini terdapat tiga tokoh fenomenal yang berjasa besar terhadap kebaharian di Indonesia:

Menghargai dan Mencari Figur Pengganti Gus Dur

Dua hari menjelang akhir tahun 2009, warga bangsa ini ditinggalkan seorang tokoh besar, mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mantan Ketua Tanfidziyah PB NU selama 15 tahun (tiga periode) itu pergi untuk selamanya, hijrah ke alam baka memenuhi panggilan Sang Pencipta.

Dia adalah Jendela kepada Dunia

Yang paling berkesan, saya lihat Gus Dur itu menjadi jendela bagi Nahdlatul Ulama (NU) kepada dunia. Karena di awal tahun 1970, dia sebagai orang muda pulang dari Timur Tengah, tiba-tiba bicara soal hak asasi manusia, demokrasi, dan seterusnya. Ini luar biasa.

Politik Luar Negeri Gus Dur

Sisi lain dari kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden adalah dominasinya dalam pelaksanaan politik luar negeri. Dominasi itu ditunjukkan ”tur keliling dunia” yang menghabiskan 23 dari 40 hari pertama masa pemerintahannya, rekor baru yang fantastis dalam sejarah kepresidenan.

Pekerjaan Rumah dari Gus Dur

Barang siapa yang menghina agama orang lain, ia menghina agamanya sendiri." Demikianlah pernyataan Gus Dur dalam iklan layanan masyarakat yang penulis buat pada saat beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Cacat Hukum yang Tak Bisa Ditolak

Bagi saya, sidang Istimewa MPR yang menjatuhkan Gus Dur itu, dipandang dari sudut konstitusi, adalah cacat, tetapi harus diterima sebagai kenyataan politik yang tak bisa dihindari. Seperti halnya Dekrit Presiden atau kudeta, suatu tindakan inskonstitusional yang menang, dan bisa dipertahankan secara politik dan dengan dukungan militer, dapat dianggap sebagai sumber hukum baru. Ungkapan ini sangat mengerikan dan mengkhawatirkan, tetapi itulah kenyataan yang memiliki dasar teori yang kuat.

Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.

Gus Dur di Tengah Minoritas

Gus Dur sepanjang hayatnya mengandaikan dan meneladankan keislaman dan kebangsaan untuk hadir dalam waktu bersamaan. Caranya dengan menjadi Muslim serta warga Indonesia yang baik pada waktu bersamaan pula. Konkretnya, menjadi Muslim yang saleh harus pula menjadi, dan sekaligus ditandai oleh perilaku sebagai, warga negara Indonesia yang baik. 

Bergesernya Moderatisme NU

Bergesernya pendulum moderatisme Islam NU langsung maupun tidak langsung ikut menyuburkan gerakan Islamisme di berbagai daerah. Indikasinya paling tidak terlihat dari dua aspek; (1) Maraknya Perda bernuansa Syariat, dan (2) Tingginya tingkat intoleransi dan diskriminasi atas nama agama. Sejak era reformasi, intensitas Perda Syariat Islam dan tindakan intoleransi dan diskriminasi atas agama meningkat secara tajam