Menggagas Gus Dur - Kategori : Isu Aktual

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Melindungi Minoritas: Untuk 85 Tahun NU

Oleh Alamsyah M. Dja\'far Beragam kekerasan bernuansa agama yang terus meningkat sekarang ini menunjukan kaum minoritas betul-betul terancam. Sejumlah laporan dari lembaga-lembaga pegiat HAM dan pluralisme memperkuat data tersebut. Tiga tahun terakhir, debit keterancamannya makin tinggi manakala pemerintah lebih memilih politik \"pembiaran\" sebagai pilihan paling aman.  

Orang China Yang Menangis di Makam Gus Dur di Hari Imlek

Oleh Elisabeth Ngatini Kupikir orang orang di sekitar makam yang sama seperti niatku mengunjungi makam, akan memandang asing dan heran aku dan Ibu yang China, tapi nyatanya tidak. Malah setelah acara doa ritual di makam, ada yang bilang kepadaku sudah biasa orang China datang ke Makam Gus Dur. Juga orang bule, orang lain agama. Itu karena Gus Dur pembela kaum minoritas. 

30 Desember 2010: Hari Humor Indonesia

Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : \"Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi.\" 

Terorisme, Islam, dan Gus dur

Oleh Cecep Hidayat Dalam pandangan Gus Dur, islam lebih tepat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi terciptanya sistem yang berkeadilan dalam sistem kenegaraan di Indonesia. Bagi Gus Dur permasalahan ideology Negara sudah selesai sejak didirikannya Negara ini. 

Membaca Ulang Fikih Minoritas

Berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa kelompok minoritas,mulai dari peristiwa yang menimpa kelompok Ahmadiyah,persoalan konflik tempat ibadah,hingga penyerangan terhadap sebuah pesantren yang disinyalir berhalauan Syiah,sangat memprihatinkan.

Boros Takbir

Dalam fiqih, orang yang was-was seperti itu dekat dengan setan, sehingga harus dijauihi. \"Jangan-jangan orang yang suka takbir di jalan-jalan itu adalah orang yang was-was dan dekat dengan setan\", sindir Gus Yusuf yang disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir malam itu.

Ketika Komitmen Multikultural Kian Rapuh

Oleh: M. Subhi Azhari Keberadaan Indonesia sebagian model toleransi beragama dan multikulturalisme akhir-akhir ini diguncang banyaknya insiden kekerasan atas nama agama. Secara kuantitas, insiden kekerasan tersebut setiap tahun terus meningkat. Begitupula secara kualitas, tindakan kekerasan berbasis agama ini telah sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai pihak telah menyuarakan keprihatinannya menyikapi situasi tersebut, bahkan tidak sedikit dari mereka secara tegas mengutuk kekerasan dan menganggapnya sebagai tindakan yang merongrong nilai-nilai kemanusiaan.

Menelisik Akar-Akar Ritus Kekerasan Agama

Kekerasan akhir-akhir ini kerap disandingkan dengan agama. Selain alasan penyerangan berkisar soal agama, pelakunya juga memakai simbol agama. Kekerasan etnis-agama-migrasi yang dominan pada masa transisi -seperti dilansir United Nations Support Facility for Indonesian Recovery (UNSFIR) pada 2002-kini hanya didominasi agama saja. Kekerasan agama juga menjadi pusat perhatian setelah beberapa lembaga melansir laporan situasi kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Di laporan ini terungkap kekerasan dilakukan sebagai salah satu respons terhadap perbedaan penafsiran dan sikap keagamaan sebuah kelompok.

Gus Dur dan Pembelaan Terhadap Ahmadiyah

AKSI BUNGKAM dan pembiaran pemerintah pusat terhadap pembantaian Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten,  rupanya mulai ditiru pemerintah lokal. Bukannya mengutuk dan mengusut tindak kekerasan tersebut, pemerintah daerah justru menimpakan hujatan kepada Jemaah Ahmadiyah sebagai penyebab tindak pembantai itu.

Budaya Politik Ekskul

FFI 2006 tampaknya harus dicatat sebagai peristiswa kebudayaan terpenting pasca-reformasi, khususnya di bidang perfilman. Sebab dari keriaan film nasional yang dihidupkan kembali setelah mati suri bertahun-tahun, terutama berkat perhatian serius Menbudpar Jero Wacik, muncul Ekskul sebagai film pertama yang membawa aura reformasi dalam dunia kesenian sejak gerakan reformasi digelindingkan mahasiswa pada 1998.