Menggagas Gus Dur - Kategori : Isu Aktual

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Ahmadiyah, Demokrasi, Anarkhisme Mayoritas

Seribuan warga Parung, Bogor, yang menyerbu kampus Mubarak milik Jemaah Ahmadiyah Indonesia dan mengusir pemiliknya 15 Juli 2005 adalah bukti tentang bahaya tirani dan anarkhisme mayoritas. Kekhawatiran paling besar terhadap demokrasi sejak mula pertama penyebarannya adalah persoalan kekuasaan mayoritas yang bisa menjadi tiran dan anarkhis.

Kepahlawan Gus Dur dan Pembubaran Ahmadiyah

Dengan pembelaan itu, hemat saya, Gus Dur sedang mengingatkan banyak orang mengenai batas yang jelas menyangkut relasi negara, warga negara, dan agama. Pada saat bersamaan ia juga sedang berupaya memposisikan agama lebih \"terdidik\". Dalam bahasanya, agar \"mendewasakan diri\". Dengan cara semacam itu Gus Dur sedang berupaya menjaga agar agama bisa terus mandiri dan terhindar dari politisasi negara atau kelompok-kelompok tertentu.

Makam Gus Dur Sederhana

Kalau demikian halnya, lalu biaya yang fantastis sebesar ± Rp180 miliar itu akan dipergunakan untuk apa? Pada akhir Maret 2010, saya diterima oleh Presiden SBY yang didampingi Mendiknas Prof DR Moh Nuh di Cikeas. Dalam kesempatan yang baik itu,saya sampaikan kesulitan yang dihadapi oleh Pesantren Tebuireng dan masyarakat sekitar pasca-adanya makam Gus Dur di dalam kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.

Robohnya Kerukunan Beragama

Penganiayaan terhadap pengurus Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Asia Lumban Toruan, tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga luka pada bangunan kerukunan beragama di Indonesia.

SKB 2 Menteri dan Perlindungan Minoritas

Isu bahwa Presiden Obama beragama Islam kembali mencuat di Amerika Seikat (AS).Pemicunya adalah sikap Obama terhadap rencana pembangunan masjid dan Islamic center di dekat Ground Zerodi daerah Manhattan yang merupakan lokasi serangan teroris 11 September 2001 lampau.

Gus Dur Presiden Rakyat

Tulisan ini hanyalah persaksian penulis terhadap sebagaian kecil dari aktifitas KH Abdurrahman Wahid, bila dalam perbandingan hanyalah setitik debu di dalam makrokosmos bintang bintang. Namun pengalaman bersama Gus Dur  penulis banggakan sepanjang masa. Mendengar dari dongeng Mbah saya tentang Tebuireng, tentang perjuangannya dan tentang karomahnya KH Hasym As`ary dari penyaksianya semenjak Mbah nyantri sampai mengabdikan hidupnya di Pondok Pesantren Tebuireng memformat pikiran saya untuk bisa mengabdi kepada Gus Dur.

Setop Penutupan Gereja!

Setidaknya, ada beberapa hal yang menurut penulis bisa dilakukan untuk mengatasi problem di atas. Pertama, pemerintah dan aparat terkait harus didesak kembali menjalankan fungsinya sesuai Perber Dua Menteri. Mereka tak boleh lepas tangan dan terkesan tersandera dengan pressure massa. Kedua, perlu usaha-usaha untuk meninjau kembali peraturan yang selama ini sering dipakai bargaining aksi persekusi. Ketiga, mengusut tuntas para pelaku perusakan gereja. Keempat, terkait pencabutan IMB oleh pemerintah daerah setempat perlu dilakukan langkah-langkah hukum seperti berhasil dilakukan HKBP Cinere atas keputusan wali kota Depok. Kelima, perbaikan kualitas komunikasi antara pihak gereja dan masyarakat sekitar.

Pembela Sejati Kaum Buruh (Migran)

TAK terasa sudah 100 hari Gus Dur meninggalkan kita. Namun, ingatan akan peran Gus Dur dalam upaya menegakkan martabat dan kedaulatan rakyat tidak pernah sirna. Memang patut disayangkan, saat Muktamar Ke-32 NU berlangsung di Makassar, tak ada even khusus untuk merefleksikan peran Gus Dur.

Menggagas Mazhab ‘Gusduriyah’

Pada akhir tahun 2009, tepatnya tanggal 30 Desember pukul 18.45 WIB, seorang tokoh besar, guru bangsa, dan Presiden RI ke-4 bernama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah pulang ila rahmatillah. Setelah ia wafat, bangsa Indonesia benar-benar kehilangan, semua media meliput berbagai jasa dan kelebihannya dalam ikut memberi kontribusi dalam membangun umat manusia baik dalam lingkup nasional mapun internasional.

Muktamar Tanpa Gus Dur

Sementara Hasyim Muzadi oleh banyak kalangan, dinilai kurang gaungnya sebagai aktor civil society, dibanding dengan Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah. Dengan demikian, ada kekuatiran bahwa Muktamar NU kali ini, dengan tanpa Gus Dur, \"kembali ke khittah\" bisa tafsirnya ialah \"kembali Orde Baru\", atau bahkan, \"kembali ke Orde Lama Soekarno\".