Menggagas Gus Dur

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Kitab Kuning Pasca Gus Dur

Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren, khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur pesantren yang bernama kitab Kuning ini.

Gus Dur dan Damai untuk Papua

Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya.

Gus Dur dan Inklusivisme NU

Dengan hanya mengenakan kaus oblong dan sarung, KH Sahal Mahfudz bersila. Beberapa ulama lain berbaring miring. Sebagian ada yang merokok. Suasana santai itu bukan waktu istirahat, tetapi justru mereka sedang membahas masalah penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama.

Pemikiran Gus Dur Harus Dilanjutkan

Keberlangsungan ide dan pemikiran yang ditinggalkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu gigih memperjuangkan demokrasi dan pluralisme, menjadi tanggung jawab para pengikutnya.

Rakyat Jelata Kehilangan "Opo Jare"

Jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00 saat Mukminatin (65) tiba di halaman Masjid Ulul Albab di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/12/2009). Perempuan paruh baya dari Kediri tersebut terlihat kelelahan setelah berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer untuk sampai ke masjid.

Menghargai dan Mencari Figur Pengganti Gus Dur

Dua hari menjelang akhir tahun 2009, warga bangsa ini ditinggalkan seorang tokoh besar, mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mantan Ketua Tanfidziyah PB NU selama 15 tahun (tiga periode) itu pergi untuk selamanya, hijrah ke alam baka memenuhi panggilan Sang Pencipta.

Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki

Sejak mangkatnya Gus Dur beberapa waktu lalu, saya terus dihantui keresahan akan masa depan dan bahkan kerisauan atas jati diri saya sendiri. Saya tidak berpikir untuk meributkan gelar pahlawan untuk beliau, tidak pula terbersit untuk mendebatkan benar tidaknya kewalian beliau.

Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi

Kita kehilangan seorang Bapak Demokrasi, Perdamaian,Toleransi, dan Pluralisme , Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.

Gus Dur dan Kelautan

Wafatnya Gus Dur membuat semua pihak merasa sangat kehilangan, termasuk masyarakat kelautan. Hingga saat ini terdapat tiga tokoh fenomenal yang berjasa besar terhadap kebaharian di Indonesia:

Menghargai dan Mencari Figur Pengganti Gus Dur

Dua hari menjelang akhir tahun 2009, warga bangsa ini ditinggalkan seorang tokoh besar, mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mantan Ketua Tanfidziyah PB NU selama 15 tahun (tiga periode) itu pergi untuk selamanya, hijrah ke alam baka memenuhi panggilan Sang Pencipta.