Menggagas Gus Dur

Rubrik ini berisi beragam karya mengenai pemikiran, gagasan, dan sosok K.H Abdurrahman Wahid yang ditulis oleh sahabat, murid, dan pengamat Gus Dur.

Budaya

35 Artikel

Isu Aktual

44 Artikel

Islam

16 Artikel

Berpulangnya sang Penakluk

Salah satu kenangan kita kepada Gus Dur saat menjadi Presiden adalah diresmikannya Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Kita akrab dengan selorohnya \"gitu aja kok repot\", sebuah kesan begitu ringan saat merespon masalah yang dihadapinya. Tanpa beban berat Gus Dur memberhentikan Wiranto dari jabatan Menkopolkam saat itu. Begitu juga tanpa canggung-canggung Gus Dur memberi predikat \"anak taman kanak-kanak\" bagi anggota DPR hasil Pemilu 1999. Itu semua yang kemudian berujung pada dilengserkannya Gus Dur dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, hanya 2 tahun dari pelantikannya.

Si Jenius yang Humoris dan Fenomenal

SOSOK KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab di pangil Gus Dur adalah fenomenal. Gus Dur telah menghadap Sang Khalik pada hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB lalu, di RSCM Jakarta.

Gus Dur dan Siklus 100 Tahunan

Ketokohan Gus Dur yang ditopang oleh kharisma, kecerdasan intelektual, dan geneologi kekiaian memang luar biasa. Bahkan, sebagian warga NU meyakini tokoh sekaliber Gus Dur hanya lahir sekali dalam 100 tahun. Jadi, kalau ingin ada Gus Dur lagi, kita harus menunggu 100 tahun lagi. Itu dianalogikan dengan kelahiran para mujaddid a\'dham (pembaru besar) yang lahir dalam 100 tahun sekali.

Harus Belajar dari Gus Dur

Baginya jika ada ide yang bisa diusung bersama, maka ide itulah yang menyatukan mereka sehingga Gus Dur tidak membedakan dan melupakan \"dosa\" yang pernah dilakukan Akbar dan Megawati tersebut. Walaupun Gus Dur sering mengkritik SBY dengan keras, bukan berarti secara personal Gus Dur pernah membenci SBY. Hal ini dicontohkan Gus Dur yang menjadi mantan presiden yang sering menghadiri upacara 17 Agustus di Istana Merdeka.

Pembela Sejati Kaum Buruh (Migran)

TAK terasa sudah 100 hari Gus Dur meninggalkan kita. Namun, ingatan akan peran Gus Dur dalam upaya menegakkan martabat dan kedaulatan rakyat tidak pernah sirna. Memang patut disayangkan, saat Muktamar Ke-32 NU berlangsung di Makassar, tak ada even khusus untuk merefleksikan peran Gus Dur.

Menggagas Mazhab ‘Gusduriyah’

Pada akhir tahun 2009, tepatnya tanggal 30 Desember pukul 18.45 WIB, seorang tokoh besar, guru bangsa, dan Presiden RI ke-4 bernama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah pulang ila rahmatillah. Setelah ia wafat, bangsa Indonesia benar-benar kehilangan, semua media meliput berbagai jasa dan kelebihannya dalam ikut memberi kontribusi dalam membangun umat manusia baik dalam lingkup nasional mapun internasional.

Momentum Kebangkitan Ulama

Ketiga hal tersebut mutlak diperlukan untuk kebangkitan ulama kembali, sebagaimana telah dirintis oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy\'ari, KH Wahab Hasbullah, dan para ulama lainnya pada tahun 1926, lalu dikukuhkan kembali dalam muktamar NU 1948 oleh KH Achmad Shiddiq, KH As\'ad Syamsul Arifin, KH Abdurrahman Wahid, dan lain-lain.

Menyegarkan NU

Seorang aktivis muda NU di Yogyakarta dalam sebuah pertemuan berkelakar: "NU itu kalau didekati nyebelin, tapi kalau dijauhi ngangenin". Pernyataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya yang terus menghisap rokok.

NU, Gus Dur, Moderatisme, dan Soft Power

`Political leaders have long understood the power that comes from attractions.... Soft power is a staple of daily democratic politics.\' (Josep S Nye, Jr, Soft Power, 2004:6) ISLAM moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama Gus Dur sebagai ikon Islam moderat Indonesia. Warga nahdiyin perlu bangga dengan hal ini.

Muktamar Tanpa Gus Dur

Sementara Hasyim Muzadi oleh banyak kalangan, dinilai kurang gaungnya sebagai aktor civil society, dibanding dengan Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah. Dengan demikian, ada kekuatiran bahwa Muktamar NU kali ini, dengan tanpa Gus Dur, \"kembali ke khittah\" bisa tafsirnya ialah \"kembali Orde Baru\", atau bahkan, \"kembali ke Orde Lama Soekarno\".