Rem Kaki Kiai Wahab Sulang

Salah satu kegemaran Gus Dur adalah berkunjung dan berbincang dengan para kiai di seluruh pelosok, terutama di Jawa. Sewaktu dia masih sehat wal afiat, begitu sering mendatangi mereka.

Ini pula rahasianya mengapa dia cukup mudah terpilih lagi menjadi Ketua Umum PBNU, bahkan kalaupun dia sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

\"Orang tidak banyak yang tahu,\" katanya suatu ketika, \"bahwa saya bisa melakukan empat ratus perjalanan dalam setahun untuk bertemu dengan kiai-kiai itu.\"

Maka, dalam Muktamar NU, misalnya pada 1989 di Yogyakarta, meskipun Gus Dur banyak diserang dengan sangat tajam dalam acara pertanggungjawabannya sebagai Ketua Tanfiziah, dia dengan mudah kembali terpilih untuk memimpin NU, secara aklamasi.

Semua itu berkat diplomasi canggih yang dijalankannya dengan cara mendatangi para kiai, bahkan yang tinggal di tempat paling terpencil sekalipun. Mereka inilah yang punya pengaruh besar dalam menentukan siapa yang bakal menjadi Ketua Tanfidziah.

Salah satu cerita yang didulangnya dari pertemuan dengan seorang kiai, dituliskannya dalam salah satu majalah kenamaan. Nama tokoh yang unik dan nyentrik Itu adalah Kiai Wahab Sulang dari Rembang.

Kiai ini tetap populer di kalangan pengikutnya, meskipun isterinya adalah anggota DPRD yang termasuk paling asyik dan getol mengikuti acara-acara non-santri di pendopo kabupaten.

Suatu hari isteri Kiai Wahab Sulang mendapat bagian sepeda motor angsuran. Sang Kiai langsung menggunakan kendaraan itu. Akibatnya lumayan. Dia menabrak sebuah rumah. Sepeda motornya rusak, dan dia sendiri luka-luka.

Kenapa Kiai bisa nabrak begitu? tanya Gus dur. \"Habis saya pakai rem kaki.\"

\"Lho, bukankah memang rem kaki harus dipakai, Kiai?\" timpal Gus Dur. \"Ya, tapi maksud saya bukan gitu. Saya mengerem hanya pakai kaki saja. Karena belum tahu bagaimana dan di mana remnya.\"