Genealogi Pemahaman Keagamaan "Baru"

 

Oleh: Abd A`la*
A'laBermunculannya pemahamaan keagamaan yang berbeda dari aliran yang banyak dianut masyarakat telah menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Sementara tokoh seperti Gus Dur menganggap tidak ada persoalan dengan hal-hal semacam itu, beberapa tokoh lain serta lembaga atau organisasi keagamaan tertentu menganggapnya sebagai penyesatan agama.

Bahkan sebagian kelompok yang menganggapnya sesat, tidak cukup dengan sekadar penyesatan. Mereka justru melakukan kekerasan dan penyerbuan terhadap tempat yang dijadikan pusat kegiatan keagamaan yang dianggap sesat itu. Semisal, pengusiran terhadap umat Ahmadiyah di Parung Bogor, dan pengrusakan terhadap pedepokan Ardi Husein, Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) Probolinggo Jawa Timur yang dianggap mengembangkan ajaran sinkretis yang sesat.

Latar Belakang
Kekerasan atas nama “agama” berulang kembali. Padahal kita nyaris sepakat, kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Selain bertentangan dengan nilai-nilai agama, kekerasan justru menimbulkan persoalan baru. Konflik kian meruncing, dan korban yang tidak berdosa ikut berjatuhan.

Terkait dengan itu, sejatinya persoalan menggugat untuk dikedepankan terletak pada penguakan latar belakang munculnya pandangan atau pemahaman keagamaan yang tidak sejalan dengan yang berkembang di masyarakat luas. Memodifikasi teori konversi agama dari Thomas F. O’dea (1987), pengembangan pemahaman keagamaan ini kemungkinan besar terkait erat dengan perubahan sosial, khususnya disorganisasi sosial, yang dialami masyarakat. Memudarnya konsensus dan solidaritas yang menggelayuti masyarakat, misalnya, membuat mereka –terutama yang terpinggirkan –lari dari keadaaan yang ada, serta mencari nilai-nilai baru yang akan menjadi anutan mereka.

Mereka emoh tetap atau masuk ke dalam pola religiusitas yang dianut mayoritas atau yang selama ini mapan, karena keberagamaan tersebut tidak mampu memberikan makna bagi kehidupan, khususnya persoalan yang menggeluti mereka. Realitas menunjukkan, keberagamaan yang saat ini dominan berkembang memang kurang responsif terhadap kenyataan kehidupan dan persoalan kemanusiaan. Religiusitas yang ada lebih menampakkan diri dalam bentuk simbol dan ritual formal yang kering dari nilai-nilai spiritualitas dan moralitas. Bahkan, dalam kondisi seperti itu, sebagian orang atau kelompok telah menjadikan agama sekadar sebagai alat kekuasaan atau kepentingan sempit mereka.

Dengan demikian, persoalan degradasi moral serta krisis kemanusiaan yang lain tampak nyaris terlewati dari perhatian umat beragama. Alih-alih, umat beragama, terutama para elitnya, cenderung terperangkap dengan klaim kebenaran sepihak melalui cara dan tujuan mereka masing-masing. Kondisi semacam itu membuat kelompok masyarakat, seperti umat Ahmadiyah dan Ardi Husein dan pengikutnya, mencari jalan “keselamatan” lain yang dalam keyakinan mereka lebih memberikan harapan.

Kearifan Sikap
Kesimpulan awal dapat diangkat, menyikapi maraknya pemahaman “baru” dalam keagamaan, tokoh agama, masyarakat dan lembaga keagamaan seharusnya bisa bersikap lebih arif. Fenomena ini perlu dijadikan kritik diri terhadap keberagamaan yang selama ini mereka pegangi. Mereka dituntut untuk mereformulasi keberagamaan mereka sehingga lebih responsif serta mampu memaknai kenyataan kehidupan manusia, dan secara khusus masyarakat Indonesia. Agama tidak dapat lagi dijadikan alat untuk pemenuhan kepentingan kelompok, justifikasi politik kekuasaan yang pragmatis, dan sejenisnya. Apalagi, sekadar untuk mengokohkan otoritas dan kebenaran diri sendiri, serta menyalahkan orang dan kelompok lain secara serta-merta.

Pada saat yang sama, mereka perlu membuka ruang yang lebih luas untuk melakukan dialog dengan orang atau kelompok lain yang berbeda, terutama yang selama ini dianggap sesat. Dalam altar dialog itu, masing-masing membuka diri, bahkan menelanjangi diri sendiri secara arif dan obyektif sehingga kelemahan masing-masing terkuak lebar.

Jika muaranya adalah kebenaran, dan kemaslahatan bersama, maka titik temu, kendati tidak harus selalu sama, pasti akan terbuka lebar di hadapan mereka. Dengan agama, manusia seharusnya lebih bersikap dewasa dan lebih bertanggung jawab dalam kehidupan, bukan malah tambah kerdil dan mudah kagetan.

*Penulis adalah anggota Majelis Pertimbangan Akademik Program Doktor Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.