Memebaca Sejarah Nusantara: Dua Puluh Lima Kolom Sejarah Gus Dur

Mungkinkah terjadi proses demokrasi yang sebenarnya kalau hanya membicarakan nasionalisme dalam memperebutkan kekuasaan negara.

Politik bagi Gus Dur merupakan sesuatu yang sangat nyata, sebagai pergulatan gagasan-gagasan dan kekuatan-kekuatan. Masa kepresidenan Gus Dur yang singkat menggambarkan betapa pergulatan itu sanagt mendebarkan, dalam suatu arena yang cukup 'bebas' untuk tarik tolak kepentingan-kepentingan. ketidakpastian, demikan seorang pengamat Indonesia menjelaskan politik di sini. Pergantian kekuasaan selalu diwarnai ketidakpastian. Adakalanya dibarengi oleh kekerasan. adakalanya dengan intrik dan tipu muslihat.

Peristiwa SI 23 Juli 2001 yang menghentikan Gus Dur dari kepresidenan sudah berlalu. Orang toh gampang melupakan soal itu. Karena itu, Gus Dur pun terus menulis dan menuangkan gagasannya. Gus Dur mulai menuangkan gagasannya kembali tak lama setelah pulang dari perjalanannya di Amerika Serikat. Salah satu tema yang sanagt menarik untuk kita ketahui adalah kolom-kolom Gus Dur tentang sejarah (Nusantara). Setidaknya, terdapat dua puluh lima kolom yang ditulis Gus Dur.

Dalam membaca sejarah Nusantara ini, yang tampaknya ingin diingatkan oleh Gus Dur adalah mengenai sejarah panjang pertumbuhan kita sebagai bangsa yang melampau konsep-konsep "nasionalsme" yang secara teoritis baru dikenal pada akhir abad ke-19. Gus Dur mengingatkan bahwa bangsa ini telah tumbuh jauh sebelum orang mengatakannya sebagai bangsa modern. Tapi orang sering lupa dengan pertumbuhan kita, dan orang cenderung menunjuk bahwa dirinyalah yang paling berhak menentukan corak negara-bangsa ini atas klaim keistimewaan agama, etnis, ideologi. Artinya, pandangan nasionalisme model ini lebih menunjukkan bobot kekuasaannya dari pada niat menciptakan sistem kehidupan bersama yang lebih baik dan demokratis. 'Mungkinkah terjadi proses demokratisasi yang sebenarnya kalau hanya membicarakan nasionalisme dalam merebut kekuasaan negara...', tulis Gus Dur.

Jika dipahami gagasan inti tersebut, dapat dimengerti apabila Gus Dur berupaya terus memperjuangkan demokrasi dengan dasar pandangan nasionalismenya yang berbeda dengan gagasan sementara pimpinan partai politik maupun tentara saat ini. demokratisasi adalah demokratisasi, bukan perebutan kekuasaan... Tapi, siapa peduli?

Buku ini merupakan versi baru dari buku Gus Dur yang telah diterbitkan beberapa tahun sebelumnya, dengan judul Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser (LKiS, 2002). KAmi merasa kumpulan kolom sejarah Gus Dur dalam buku tersebut sangat berharga untuk kita baca kembali sebagai khazanah yang beliau tinggalkan, dan karena itu kami terbitkan kembali dalam versi yang baru dengan judul Membaca Sejarah Nusantara: Dua Puluh Lima Kolom Sejarah Gus Dur.

Gus, setelah sampean pergi, mungkin hanya dengan menebarkan gagasan dan merawat pluralisme untuk kemaslahatan bangsa, kami mengenangmu sebagai pahlawan, lebih dari sekedar simbol dan gelar formalitas.