Artikel dengan tag "dan"

Usman bandingkan Komitmen HAM Gus Dur dan SBY

Memang Presiden Abdurrahman Wahid, tidak lama (menjabat) selama pemerintahan sekarang. \"tetapi pemimpin lama, tidak otomatis berani berbuat banyak,\" pungkas Usman. (wrf)   

Harlah, Natal dan Maulid

Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama.

Gus Dur Gemar Wayang dan Beethoven

Belasan kaset wayang dan beberapa compact disc (CD) musik klasik, di antaranya karya Beethoven, tertumpuk di atas meja kerja almarhum Abdurrahman Wahid  

NU dan Negara Islam (1)

Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis: apakah reaksi NU (Nahdlatul Ulama) terhadap gagasan Negara Islam (NI), yang dikembangkan oleh beberapa partai politik yang menggunakan nama tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji terlebih dahulu dan dicarikan jawaban yang tepat atasnya. Inilah untuk pertama kali organisasi yang didirikan tahun 1926 ini ingin diketahui orang bagaimana pandangannya mengenai NI. Ini juga berarti, keinginntahuan akan hubungan NU dan keadaan bernegara yang kita jalani sekarang ini dipersoalkan orang. Dengan kata lain, masalah pendapat NU sekarang bukan hanya  menjadi masalah intern organisasi saja, melainkan sudah menjadi \"bagian\" dari kesadaran umum bangsa kita. Dengan upaya menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menjadi bagian dari proses berpikir yang sangat luas seperti itu, sebuah keinginan yang pantas-pantas saja dimiliki seseorang yang sudah sejak lama tergoda oleh gagasan NI.

NU dan Negara Islam (2)

Siapapun tidak dapat menyangkal bangsa Indonesia adalah memiliki jumlah terbesar kaum Muslimin. Ini berbeda dari bangsa-bangsa lain, Indonesia justru memiliki jumlah yang sangat besar kaum \"Muslimin statistik\" atau lebih di kenal dengan sebutan \"Muslim abangan\". Walaupun demikian, kaum muslim yang taat beragama dengan nama \"kaum santri\" masih merupakan minoritas. Karena itu, alangkah tidak bijaksananya sikap ingin memaksakan NI atas diri mereka.

Terorisme, Islam, dan Gus dur

Oleh Cecep Hidayat Dalam pandangan Gus Dur, islam lebih tepat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi terciptanya sistem yang berkeadilan dalam sistem kenegaraan di Indonesia. Bagi Gus Dur permasalahan ideology Negara sudah selesai sejak didirikannya Negara ini. 

Gus Dur dan Pembelaan Terhadap Ahmadiyah

AKSI BUNGKAM dan pembiaran pemerintah pusat terhadap pembantaian Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten,  rupanya mulai ditiru pemerintah lokal. Bukannya mengutuk dan mengusut tindak kekerasan tersebut, pemerintah daerah justru menimpakan hujatan kepada Jemaah Ahmadiyah sebagai penyebab tindak pembantai itu.

Kekuasaan dan Hukum

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa waktu yang lalu, seperti memberi sinyal bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki wewenang untuk membubarkan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) karena bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kalau pendapat ini dikemukakan orang lain, tidak ada masalah sama sekali. Tetapi ia dinyatakan oleh SBY dalam kapasitas pemimpin formal negeri ini. Padahal ia sebenarnya seharusnya sudah tahu bahwa wewenang itu harus berada di tangan Mahkamah Agung (MA). Katakanlah keputusan MUI tentang JAI itu, yang sudah diambil sejak lama, memiliki nilai ‘kebenaran\' dan karenanya harus dilaksanakan. Tapi toh yang terjadi hanyalah ‘kebenaran\' dalam pendapat keagamaan bukan pendapat kenegaraan. Dalam hal ini, jika kita benar-benar konsekuen dengan Undang-Undang Dasar (UUD), fatwa MUI itu bukanlah pendapat negara .

Kepahlawan Gus Dur dan Pembubaran Ahmadiyah

Dengan pembelaan itu, hemat saya, Gus Dur sedang mengingatkan banyak orang mengenai batas yang jelas menyangkut relasi negara, warga negara, dan agama. Pada saat bersamaan ia juga sedang berupaya memposisikan agama lebih \"terdidik\". Dalam bahasanya, agar \"mendewasakan diri\". Dengan cara semacam itu Gus Dur sedang berupaya menjaga agar agama bisa terus mandiri dan terhindar dari politisasi negara atau kelompok-kelompok tertentu.

Kedewasaan dan Bencana Alam

Motif berupa rasa belas kasihan memang bersumber pada alasan-alasan perikemanusiaan, namun antara kedua motif itu terdapat perbedaan yang cukup besar. Jika dorongan itu bersifat rasa belas kasihan, maka pertolongan yang diberikan  tidak mendorong para korban untuk mengatasi akibat-akibat bencana alam  itu sendiri. Timbullah rasa geram di pihak para korban, yang akhirnya dinyatakan dalam berbagai cara. Ada yang geram kepada pemerintah daerah, yang memang kacau balau tanpa persiapan. Atau kepada persiapan tidak memadai yang dilakukan oleh para penyelenggara negara yang tidak siap sama sekali, dan mengalami kemacetan total.