Artikel dengan tag "Dur"

Imlek, Valentine, dan Gus Dur

Selamat hari raya Imlek bagi yang merayakan. Begitu istimewa perayaan Imlek kali ini, yang tepat pada 14 Februari 2010, bersamaan dengan Hari Kasih Sayang, Valentine\'s Day. Berkat kasih sayang dan perjuangan (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasih menjabat presiden ke-4 Republik Indonesia, warga etnik Tionghoa di Indonesia bisa merayakan Imlek dengan terbuka tanpa ancaman.

Warisan Gus Dur

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur

Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Sebagai titah  atau makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.

Gus Dur dan Siklus 100 Tahunan

Ketokohan Gus Dur yang ditopang oleh kharisma, kecerdasan intelektual, dan geneologi kekiaian memang luar biasa. Bahkan, sebagian warga NU meyakini tokoh sekaliber Gus Dur hanya lahir sekali dalam 100 tahun. Jadi, kalau ingin ada Gus Dur lagi, kita harus menunggu 100 tahun lagi. Itu dianalogikan dengan kelahiran para mujaddid a\'dham (pembaru besar) yang lahir dalam 100 tahun sekali.

Harus Belajar dari Gus Dur

Baginya jika ada ide yang bisa diusung bersama, maka ide itulah yang menyatukan mereka sehingga Gus Dur tidak membedakan dan melupakan \"dosa\" yang pernah dilakukan Akbar dan Megawati tersebut. Walaupun Gus Dur sering mengkritik SBY dengan keras, bukan berarti secara personal Gus Dur pernah membenci SBY. Hal ini dicontohkan Gus Dur yang menjadi mantan presiden yang sering menghadiri upacara 17 Agustus di Istana Merdeka.

NU, Gus Dur, Moderatisme, dan Soft Power

`Political leaders have long understood the power that comes from attractions.... Soft power is a staple of daily democratic politics.\' (Josep S Nye, Jr, Soft Power, 2004:6) ISLAM moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama Gus Dur sebagai ikon Islam moderat Indonesia. Warga nahdiyin perlu bangga dengan hal ini.

Muktamar Tanpa Gus Dur

Sementara Hasyim Muzadi oleh banyak kalangan, dinilai kurang gaungnya sebagai aktor civil society, dibanding dengan Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah. Dengan demikian, ada kekuatiran bahwa Muktamar NU kali ini, dengan tanpa Gus Dur, \"kembali ke khittah\" bisa tafsirnya ialah \"kembali Orde Baru\", atau bahkan, \"kembali ke Orde Lama Soekarno\".