Artikel dengan tag ""

Haul Gus Dur, Menggerakkan Tradisi Untuk Indonesia

Sudah sering kita dengar komentar ``andaikan Gus Dur masih ada..`` atau ``sekarang baru paham mengapa Gus Dur dulu berkata....`` Setiap kekonyolan politik, setiap insiden kekerasan atas nama agama dan penindasan kepada kelompok minoritas, setiap insiden rakyat kecil yang terdesak oleh kepentingan kekuasaan; nama Gus Dur kembali disebut.

Gus Dur, Sang Saudagar Humor

Oleh Sudaryanto BANYAK orang mengenal sekaligus mengenang (alm) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur-tanggal 30 Desember 2011 genap 2 tahun meninggal-sebagai tokoh pluralisme. Namun, hanya sedikit orang yang mengenal sekaligus mengenangnya, sebagai saudagar humor NU (Nahdlatul Ulama). Padahal, bicara tentang humor NU, jelas kita tak bisa melupakan the Godfather-nya, yaitu Gus Dur sendiri. Sejauh mana humor NU ala Gus Dur dikatakan menarik?

WKS: Yang Atas Mengganas, yang Bawah Beringas

Yang di atas mengganas, yang di bawah makin beringas. Yang menjadi pejabat lupa diri, memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi dan politik penguasa, tanpa mau mendengar serta melihat kondisi rakyat yang masih terbelakang. Sehingga yang terlihat, pemerintah kita seperti ‘tuli\' dan tak menghiraukan kondisi rakyatnya yang masih tetap miskin.

Harlah, Natal dan Maulid

Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama.

Berduka Teror Bom, Santri Sambangi Makam Gus Dur

Sebagai bentuk keprihatinan terhadap aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Solo, Jawa Tengah, puluhan santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang menggelar aksi di makam Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Terorisme, Islam, dan Gus dur

Oleh Cecep Hidayat Dalam pandangan Gus Dur, islam lebih tepat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi terciptanya sistem yang berkeadilan dalam sistem kenegaraan di Indonesia. Bagi Gus Dur permasalahan ideology Negara sudah selesai sejak didirikannya Negara ini. 

Ahmadiyah, Demokrasi, Anarkhisme Mayoritas

Seribuan warga Parung, Bogor, yang menyerbu kampus Mubarak milik Jemaah Ahmadiyah Indonesia dan mengusir pemiliknya 15 Juli 2005 adalah bukti tentang bahaya tirani dan anarkhisme mayoritas. Kekhawatiran paling besar terhadap demokrasi sejak mula pertama penyebarannya adalah persoalan kekuasaan mayoritas yang bisa menjadi tiran dan anarkhis.

Lain Jaman, Lain Pendekatan

Bukan hanya penulis, yang melihat masalahnya dari sudut konstitusi, tapi orang-orang seperti Dr. Azyumardi Azra, Dr. Ahmad Syafi\'i Ma\'arif (yang disegani orang karena sikapnya yang hati-hati), dan Dr. M. Syafi\'i Anwar, semuanya menolak fatwa MUI itu. Bahkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang ada di lingkungan MUI dihadapkan kepada reaksi marah dari para anggota Muhammadiyah sendiri, termasuk ketuanya Din Syamsuddin. Bahkan seorang tokoh Muhammadiyah yang berpengaruh besar seperti Prof. M Dawam Rahardjo berpendapat, menuntut supaya MUI dibubarkan saja. Kira-kira menurut pendapat penulis, karena sikap MUI terhadap minoritas seperti GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia). Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, memahami benar bahwa GAI dilindungi oleh konstitusi kita, betapapun kita berbeda pendirian dengan mereka.