Artikel dengan tag ""

Kula Ndherek, Gus

Adalah Edy Yurnaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan Majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan laporannya. Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman Wahid di Kantor PBNU. Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia.

Imlek, Valentine, dan Gus Dur

Selamat hari raya Imlek bagi yang merayakan. Begitu istimewa perayaan Imlek kali ini, yang tepat pada 14 Februari 2010, bersamaan dengan Hari Kasih Sayang, Valentine\'s Day. Berkat kasih sayang dan perjuangan (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasih menjabat presiden ke-4 Republik Indonesia, warga etnik Tionghoa di Indonesia bisa merayakan Imlek dengan terbuka tanpa ancaman.

NU, Gus Dur, Moderatisme, dan Soft Power

`Political leaders have long understood the power that comes from attractions.... Soft power is a staple of daily democratic politics.\' (Josep S Nye, Jr, Soft Power, 2004:6) ISLAM moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama Gus Dur sebagai ikon Islam moderat Indonesia. Warga nahdiyin perlu bangga dengan hal ini.

NU, Nasionalisme dan Politik

Kenyataan politik di bawah kolonialisme Belanda menyadarkan aktivis gerakan Islam dan gerakan nasionalis sebelum masa kemerdekaan. Dari kesadaran itulah lahir berbagai gerakan Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

NU, Muktamar XXXI dan Demokratisasi

Tugas dan peranan NU masa depan adalah memimpin bangsa ke arah kejayaaan dan kebesaran, bukan sekedar menonton. Namun karena satu hal penulis melihat peranan demokratisasi yang seharusnya ditunjukkan dalam muktamar itu tampaknya gagal berperan demikian.

NU, TNI, Dan Demokrasi

Oleh: Abdurrahman Wahid Dalam sebuah tulisan, penulis pernah menyatakan bahwa NU (Nahdlatul Ulama) memiliki dasar-dasar demokrasi dalam sejarahnya. Pertama, karena NU mendasarkan diri pada hukum Islam (fiqh), otomatis ia memperlakukan semua orang secara sama di hadapan hukum itu sendiri. Kedua, sejak 1952 dalam Muktamar Palembang para jajaran PBNU dipilih secara tebuka oleh para anggotanya. Bahkan, dalam Muktamar 1968 di Bandung, NU memilih KH. M. Bisri Syansuri sebagai Ra\'is Aam PBNU, yang beliau tolak karena penghormatan sangat besar kepada kakak ipar beliau KH. A Wahab Hasbullah. Beliau berkeras bahwa selama sang kakak ipar masih hidup, biarlah jabatan orang pertama di lingkungan NU itu dipegang sang kakak ipar dan beliau menjadi wakil Ra\'is A‘am.

Islam, Ideologi dan Etos Kerja di Indonesia

Oleh Abdurrahman Wahid Dalam Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) tahun 1935 di Banjarmasin, forum menyampaikan permintaan fatwa, bagaimana status negara Hindia Belanda dilihat dari pandangan agama Islam, karena ia diperintah oleh pemerintah yang bukan Islam dan orang-orang yang tidak beragama Islam? Dari sudut pandang agama Islam, wajibkah ia dipertahankan bila ada serangan luar?

Islam, Agama Populer atau Elitis?

Oleh Abdurrahman WahidPADA tahun 1950-an dan 1960-an, di Mesir terjadi perdebatan sengit tentang bahasa dan sastra Arab, antara para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Dr Thoha Husein, salah seorang tunanetra yang pernah menjabat menteri pendidikan dan pengajaran serta pelopor modernisasi, menganggap bahasa dan sastra Arab harus mengalami modernisasi, jika diinginkan ia dapat menjadi wahana bagi perubahan-perubahan sosial di zaman modern ini. Ia menganggap bahasa dan sastra Arab yang digunakan secara klise oleh sajak-sajak puja (al-madh) seperti bahasa yang digunakan dalam dziba\'iyyah dan al-barzanji sebagai dekadensi bahasa yang justru akan memperkuat tradisionalisme dan menentang pembaruan. Dari pendapat ini dan dari tangan Dr Thoha Husein, lahir para pembaru sastra dan bahasa Arab yang kita kenal kini.

Anwar, Mahathir, dan Kita di Indonesia

Oleh Abdurrahman Wahid PADA tanggal 21 September 1998 penulis mendapat telepon dari Nasir Tamara. Ia meminta penulis bersedia mendukung surat Adnan Buyung Nasution ke Malaysia, yang isinya memprotes penangkapan Anwar Ibrahim oleh Pemerintah Malaysia. Penulis meminta dibacakan pernyataan protes itu, yang berkesudahan dengan hilangnya anak kalimat \"Anwar Ibrahim, seorang pejuang hak-hak asasi manusia\" dan tertinggal \"Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri dan mantan Menteri Keuangan\".

Tuan Guru Faisal, Potret Kepribadian NU

DI Nusa Tenggara Barat (NTB) terdapat dua figur ulama besar yang sangat  menonjol dan berpengaruh. Yaitu, Tuan Guru Zainuddin (Pimpinan Nahdlatul  Wathan) dan Tuan Guru Faisal (Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama).