Artikel dengan tag "NU"

Bagaimana Membaca NU?

Sejak kemerdekaan, perdebatan masalah kemasyarakatan senantiasa didominasi pertukaran pikiran antara kaum elitis dan kaum populis. Memang ada suara-suara tentang Islam, seperti dikembangkan Bung Karno, tetapi itu semua hanya meramaikan situasi yang tidak menjadi isu utama.

Bergesernya Moderatisme NU

Bergesernya pendulum moderatisme Islam NU langsung maupun tidak langsung ikut menyuburkan gerakan Islamisme di berbagai daerah. Indikasinya paling tidak terlihat dari dua aspek; (1) Maraknya Perda bernuansa Syariat, dan (2) Tingginya tingkat intoleransi dan diskriminasi atas nama agama. Sejak era reformasi, intensitas Perda Syariat Islam dan tindakan intoleransi dan diskriminasi atas agama meningkat secara tajam

Melindungi Minoritas: Untuk 85 Tahun NU

Oleh Alamsyah M. Dja\'far Beragam kekerasan bernuansa agama yang terus meningkat sekarang ini menunjukan kaum minoritas betul-betul terancam. Sejumlah laporan dari lembaga-lembaga pegiat HAM dan pluralisme memperkuat data tersebut. Tiga tahun terakhir, debit keterancamannya makin tinggi manakala pemerintah lebih memilih politik \"pembiaran\" sebagai pilihan paling aman.  

NU dan Negara Islam (1)

Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis: apakah reaksi NU (Nahdlatul Ulama) terhadap gagasan Negara Islam (NI), yang dikembangkan oleh beberapa partai politik yang menggunakan nama tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji terlebih dahulu dan dicarikan jawaban yang tepat atasnya. Inilah untuk pertama kali organisasi yang didirikan tahun 1926 ini ingin diketahui orang bagaimana pandangannya mengenai NI. Ini juga berarti, keinginntahuan akan hubungan NU dan keadaan bernegara yang kita jalani sekarang ini dipersoalkan orang. Dengan kata lain, masalah pendapat NU sekarang bukan hanya  menjadi masalah intern organisasi saja, melainkan sudah menjadi \"bagian\" dari kesadaran umum bangsa kita. Dengan upaya menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menjadi bagian dari proses berpikir yang sangat luas seperti itu, sebuah keinginan yang pantas-pantas saja dimiliki seseorang yang sudah sejak lama tergoda oleh gagasan NI.

NU dan Negara Islam (2)

Siapapun tidak dapat menyangkal bangsa Indonesia adalah memiliki jumlah terbesar kaum Muslimin. Ini berbeda dari bangsa-bangsa lain, Indonesia justru memiliki jumlah yang sangat besar kaum \"Muslimin statistik\" atau lebih di kenal dengan sebutan \"Muslim abangan\". Walaupun demikian, kaum muslim yang taat beragama dengan nama \"kaum santri\" masih merupakan minoritas. Karena itu, alangkah tidak bijaksananya sikap ingin memaksakan NI atas diri mereka.

Menyegarkan NU

Seorang aktivis muda NU di Yogyakarta dalam sebuah pertemuan berkelakar: "NU itu kalau didekati nyebelin, tapi kalau dijauhi ngangenin". Pernyataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya yang terus menghisap rokok.

NU, Gus Dur, Moderatisme, dan Soft Power

`Political leaders have long understood the power that comes from attractions.... Soft power is a staple of daily democratic politics.\' (Josep S Nye, Jr, Soft Power, 2004:6) ISLAM moderat boleh diklaim siapa saja. Tapi, tidak ada yang bisa menghindar dari nama Gus Dur sebagai ikon Islam moderat Indonesia. Warga nahdiyin perlu bangga dengan hal ini.

NU dan Kemiskinan

Sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan, NU juga tidak mau ketinggalan berperan serta dalam mengatasi masalah kemiskinan ini. Bahkan sejak awal berdirinya, organisasi keagamaan tradisional ini telah merintis gerakan ekonomi kerakyatan yang diberi nama oleh KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai nahdlatu al-tujar (kebangkitan perdagangan). Kemudian pada Muktamar Ke-1 tanggal 21 Oktober 1926, NU antara lain membahas masalah hasil usaha suami istri (harta gono gini), dan masalah upah pekerja. (Ahkam Al-Fuqoha, hlm.18). Hal ini menunjukkan bahwa NU berupaya agar masyarakat tidak hanya mencari bekal akhirat semata tetapi juga mencari kebahagiaan di dunia.

NU dan

Ketika NU di bawah kepemimpinan Gus Dur (1984-1999), ormas itu memulai strategi berpolitik baru, yakni \"kultural-kerakyatan\", bukan lagi \"struktural-kekuasaan\". Strategi \"politik kerakyatan\" tersebut diprakarsai oleh sejumlah kiai/tokoh muda NU kala itu, seperti KH Ahmad Shiddiq, KH Sahal Mahfudh, KH Muchit Muzadi, KH Mustafa Bisri, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebagai Ketum PB NU, Gus Dur berbeda dengan para pendahulunya yang cenderung kompromistis dengan kekuasaan. Saat itu, dia tampil sebagai aktivis-intelektual yang kritis terhadap segala bentuk politisasi dan arogansi yang dilakukan negara.